Selasa, 27 Agustus 2013

Awalnya, saya hanya mencari beasiswa di berbagai website kampus, namun kebanyakan sudah outdated dan syarat-syaratnya tidak sesuai dengan saya.
Namun yang membuat saya tertarik adalah program pendek dua minggu di Jepang. Kebetulan sekarang saya sedang menempuh jurusan Sastra Jepang sehingga tak ada salahnya mencoba meng-apply. Waktunya pas pula, as libur panjang semester dan harganya kejam tapi rasional.

Saya mulai mengirimkan berbagai berkas yang disyaratkan seperti bukti mahasiswa di kampus bersangkutan ( certificate of enrollment ), formulir, photo, passport.

Berselang beberapa minggu, 2 minggu sebelum UAS semester 2, saya diundang oleh pihak penyelenggara. Lalu, saya komunikasikan dengan orang tua. Oke, mereka mengizinkan.

Saya mulai berkomunikasi seputar persiapan VISA dengan pihak penyelenggara lewat email, mengirim berbagai berkas, dan membayar program (program bersifat individual tetapi hanya partner university yang bersangkutan saja yang diundang).

Di Indonesia sendiri, Tokai Daigaku hanya memiliki koneksi dengan ITB dan UGM.

Waktu itu, saya sama sekali tidak mengerti mengenai VISA makanya saya segera menuju ke Kantor Urusan Internasional UGM yang hanya memakan beberapa langkah dari fakultas.

Karena masih dzuhur, saya menuggu hampir setengah jam di depan teras. Selepas itu, saya menjelaskan serba-serbi, bla blaaa blaa...

Awalnya beliau atau yang sering di sapa bu Dwi kaget, karena saya tidak mendaftar lewat kantor beliau ( padahal program ini dari website mereka..dasar saya..tehehe ) mereka mengatakan tidak bertanggung jawab. Dia menjelskan bagaimana saya harus membuat surat rekomendasi untuk pembuatan VISA dari fakultas-jurusan.

Sungguh, saya paling benci mengurus administrasi, apalagi harus bolak-bali kantor? Ogah.

Saya menuju kantor agen travelling, mengumpulkan berkas-berkas yang disyaratkan oleh pihak penyelenggara dan ternyata mereka tidak menerima berkas"Certificate of Enrollment" yang hanya diwakili dengan TRANSKRIP NILAI.

Sentak, saya kaget. Padahal saat mendaftar ke Jepang, saya mengirimkan dokumen itu. Disinilah saya sadar, apa yang dikatakan bu Dwi itu benar. Surat Rekomendasi! Oh tidak. Padahal saya pingin melewati hari-hariku tanpa berurusan dengan tempat yang bernama "Tata Usaha".

Saya awali langkah dengan berbicara ke dosen? Tidak tidak. Mana berani. Saya awali dulu dengan mba Umi, pengurus administrasi jurusan. Cukup mencerahkan dan berbobot banyak info. Namun tidak banyak menolong.

Akhirnya saya bertemu dengan tante yang juga seorang dosen di jurusan Arkeologi. Dia berkali-kali keluar negeri dengan nama UGM dan pernah sekolah di Belanda. Alhamdulillah, beliau se-fakultas dengan diri ini sehingga mudah berkomunikasi langsung dengan dekan dengan lancar.

Dari sini, saya diberi penjelasan bahwa sangat penting bagi saya untuk memberitahu perihal mengenai keterlibatan dalam kunjungan ke luar negeri. Sangat penting karena dapat menaikkan kredit reputasi kampus. Selain itu, ternyata dengan baiknya dekan memaparkan akan memberikan uang saku kepada saya. Hore!! Setidaknya dapat mengcover biaya hidup di sanalah...

Saya harus menyiapkan "Certificate of Enrollment" dengan mengumpulkan arsip-arsip bersangkutan terutama Letter of invitation atau surat-surat yang saya kirim maupun yang saya terima dari pihak Jepang.

Ternyata, harus lewat jurusan. Harus ada surat dari jurusan dulu. Oh no. Capek deh. Oi Oii. Ya iyalah, sekalian izin. DPA saya kebetulan adalah ketua jurusan (apa-apaan ini, takdirkah? Beliau tampan pula, idola semua mahasiswa se-fakultas). Namun beliau saat itu keluar jadi diwakili dengan Asisten Jurusan/Wakil dibawah Ketua Jurusan gitu.

Bla bleeh...heyaaaa....hyaatttt ...achoooo-Petak!! 
Penjelasan selesai. Saya harus membuat surat izin perihal kegiatan ini berbubuh tanda tangan Ketua Jurusan/Wakilnya dan saya. Oh selesai. Hari yang melelahkan.

Setelah itu, surat itu besama surat lainnya saya kumpulkan dalam satu bundel dokumen, diserahkan ke kantor Dekan.

Oh. Keesokan paginya, "Certificate of Enrollment" pun jadi. Mereka mengabulkan permintaanku untuk lebih cepat. Langsung deh kubawa ke kantor agen. Dokumen complete. Sekarang tinggal menunggu VISA jadi.

Sekarang tinggal menagih janji Dekan. Ya bantuan biaya. Ini penting.
Wahai saudara sekalian, tahukah bahwa Jepang itu negara mahal. Luar binasa mahalnya. Naudzubillah. Kalian harus liat di google, betapa hebatnya mereka. Hebat mahalnya. Cup mie saja harganya 20rb-an.

Langkah ini sunnah, tapi wajib bagi mereka yang desperate akan keuangan. Kuserahkan surat permohonan biaya disertakan dokumen certificate of enrollment ke kantor Dekan, lagi. Saat itu saya malas basa-basi jadi saya cari cara jitu dengan menaruh dokumen dalam amplop yang sudah di lem. Cepat pulang ah~.

"Maaf pak, saya ada urusan jadi saya titip di sini ya. Permisi..."
"Eit, eit eit. main pergi aja"
Usaha kabur gagal. Akhirnya kuberkutat lagi dengan mulut. Energiku..oh kasian sekali engkau.

Katanya, kabar berikutnya bisa dipastikan keesokan paginya. Besok pagi!?? Jam 9!!? Serius?
Saya harus mikirin ujian Kanji dan berangkat langsung ke Bandara jam 10. Dari kampus pula!

Tapi, saya mahasiswa baik-baik. Kusempatkan singgah ke kantor. Mereka bilang baru bisa jam 11. What-thee...?
Petugasnya lagi di Bandara? Apaaa...hmm?
Ok, setelah liburan sajalah. Untuk sementara pake dana kucur pribadi dulu. Mudah-mudahan dapat banyak. Amin (Doa di bulan Ramadhan sangat makbul).

Intinya VISA selesai dan saya bisa berangkat ke Jepang.

---
Sekilas info dan kesan:


+ Administrasi merupakan hal penting. Dan sangat greget! Apalgi dibarengi dengan waktu ujian..uhhmm... makin Naudzubillah.

Komunikasikan kegiatan seperti ini sebelum mendaftar, terutama kepada jurusan dan kantor urusan internasional. Tapi kalo enggak juga ga apa//tabok. Oi oii..

Summer Short Program kali ini menyajikan pembelajaran budaya dan bahasa Jepang serta tour di lokasi pariwisata Jepang.

Bertanyalah , mendam ga ada gunanya. Bertanyalah, terutama kepada orang-orang yang sudah pernah ke Jepang. Banyak hal yang harus diperhatikan seperti Provider HP, colokan listrik, makanan ( hati-hati dengan babi ). Selagi masih bisa dibeli di Indonesia, sebaiknya disiapkan seperti alat mandi dan makan. Jepang, mahal. Oh~

Siapkan uang lebih. Pastinya kalian akan belanja. Kalau enggak sih bahaya. Kamu pasti akan naik bisa, kereta dan segala macam lo.

Selalu bawa Paspor kemana. Itu nyawa para foreigner backpacker!

Selalu bawa pakaian shalat. Jangan harap ada mushola bertebaran indahnya kayak di sini. Barusan setelah belanja, saya singgah ke karaoke demi mencari tempat shalat. ( Saya ditraktir temanku, sekalian karaoke-an..chi hiii...)

Di google bisa mendeteksi arah kiblat lo "Kiblat Online".

Kalian tersesat pun bakal selamat. Orang Jepang sangat ramah dan penolong. Akan lebih baik bila kamu bisa sedikit-sedikit berbahasa Jepang. Tidak seperti di Indonesia, jumlah pengguna bahasa Inggris di sana tak sehebat Indonesia. Berbanggalah, bangsaku~ ohohoho

Selalu mengucapkan terima kasih saat menerima bantuan dan mengucapkan maaf saat merepotkan atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Semakin antusias anda, semakin antusias pula lawan bicara anda. (:::antusias dan alay itu beda tipis)

Taatilah peraturan tempat anda tinggal baikmitu asrama, apartemen, atau dimanapun. Jepang itu disiplin dan pembersih.

::: Sekian, nanti saya nulis lagi *Arghh Writing Block!!!!













Tagged: , ,

0 komentar:

Posting Komentar

LABEL

baito (1) beasiswa (2) beauty tips (1) Cat cafe (1) Cita-cita (1) Daily (6) Event (1) jalan-jalan (1) Japan (4) jogja (1) kerja (5) kucing (1) Kuliner (1) magang (4) Motivasi (3) product review (1) Review (1) story (5) Travel (1) trip (3) VISA (1) Wisata (2) yogyakarta (3)