Hukum absolut yang dipelajari dalam fisika SMA tidak ada apa-apanya dibandingkan absolutivitas orang tua.
Sering kah kalian mendengar cerita, anak yang harus menempuh jurusan kuliah pilihan ibunya dengan terpaksa demi membahagiakan orang tua? Atau harus masuk jurusan teknik sipil padahal dalam hati berkata jurusan Ekonomi? Sekelumit fenomena pasaran ini sudah terjadi dimana-mana.
Beruntung, saya dilahirkan di keluarga cukup dekromatis. Segala keinginan dan pilihan dapat ditawar . Ketika tidak setuju, anak harus memantapkan resolusi pandangan lebih dari 2 sudut, memaparkan alasan dan kemantapan untuk bertanggung jawab. Pilihan dapat dilegalisir ketika ada kemantapan dan keberanian untuk menanggung kerasnya tanggung jawab pantang mundur. Sejauh ini, inilah yang mendefinisikan metode saya ketika bernegosiasi dengan orang tua.
Saya mau masuk sekolah ini, OK. Saya ingin coba kursus itu, OK. Ketika mau merantau ke pulau Jawa untuk SMA, juga OK. Ketika membeli banyak alat lukis, dijawab OK. Ketika ingin motor, ortu sudah yakin dan saya pun sudah cukup berani dan tidak ragu-ragu, juga direstui OK. Ketika saya menginginkan laptop Mac Apple dikarenakan saya ingin menggambar digital art lebih baik, juga tiba-tiba dikasih OK. Ketika SMA kelas 2, saya minta Pen tablet Wacoom yang harganya lebih mahal dari PS, herannya langsung dikasih OK. Banyak OK dari segala permintaan saya.
Tapi, banyak juga kata TIDAK tanda gagal nego. Seperti ketika meminta PS2 yang baru, jawabanya TIDAK BOLEH. Ketika minta hadiah Ultah PS3, TIDAK BOLEH. Ketika saya bersikeras hanya ingin pakai sepatu simple favoritku meski robek sedikit dan tidak terlalu kelihatan robeknya, juga TIDAK BOLEH. Ketika saya mau bermain ke rental PS, juga TIDAK BOLEH. Banyak sekali pertengkaran untuk menentang. Banyak perdebataan dengan saling melempar alasan yang saya anggap TIDAK rasional. Mengapa saya tidak boleh memiliki PS(Playstation), padahal nilai sekolah saya baik dan saya juga selalu menepati janji bahwa hanya bermain di hari Sabtu Minggu. Kenapa saya tidak boleh ke rental PS, hanya karena takut saya sendiri yang cewek disana? Mana feminisme! Kenapa tidak boleh pakai sepatu favoritku, dan harus beli lagi sepatu baru padahal sepatuku yang sekarang masih bisa layak pakai!? Dan apa manfaatnya ketika memakai sepatu baru demi dianggap baik didepan orang lain?
Semakin naik umur, semakin banyak pengalaman yang menempa cara-cara nego dengan orang tua. Ketika kuliah, pergi kemanapun, mayoritas dikasih OK dan proses nego tidak sesulit ketika masih kecil. Capek juga terkadang harus ikut kemauan ortu semisal ikut acara undangan teman kerjanya, atau harus pergi acara makan-makan keluarga ketika besoknya ada ujian. Saya juga harus bilang OK untuk permntaan mereka.
Ketika saya masuk kuliah, tidak ada pertanyaan pada pilihan jurusanku. Semua pilihan masa depan, telah dipercayakan sehingga ketika saya mencoba Binus, President University, UGM, UII dll tak ada kesulitan. Hasil apapun, ortu manut karena tau yang menjalani hidup tersebut adalah saya.
Saat mencoba berbagai macam beasiswa, semuanya juga mendukung. Tidak ada pertanyaan apapun dan langsung mendukung.
3 tahun sudah perjalanan saya mencari beasiswa ke Jepang di Sastra Jepang dan lagi-lagi gagal. Saya memutuskan untuk coba lagi tapi herannya, kali ini orang tua melarang. Jelas-jelas saya tidak dapat beasiswa full, dan hanya mendapat uang kuliah gratis saja adalah pertanda saya telah gagal. Saya mau mencoba 3 beasiswa yang sedang buka di kampus seperti ke Tohoku U, Hokkaido U dan Saga U. Ada Jasso (uang jajan 8jt/bln) + uang kuliah gratis. Lebih baik daripada beasiswa Nara yang hanya tembus di uang kuliah saja. Kecewa sekali rasanya, makanya beasiswa parsial ini pun saya tolak.
3 tahun sudah perjalanan saya mencari beasiswa ke Jepang di Sastra Jepang dan lagi-lagi gagal. Saya memutuskan untuk coba lagi tapi herannya, kali ini orang tua melarang. Jelas-jelas saya tidak dapat beasiswa full, dan hanya mendapat uang kuliah gratis saja adalah pertanda saya telah gagal. Saya mau mencoba 3 beasiswa yang sedang buka di kampus seperti ke Tohoku U, Hokkaido U dan Saga U. Ada Jasso (uang jajan 8jt/bln) + uang kuliah gratis. Lebih baik daripada beasiswa Nara yang hanya tembus di uang kuliah saja. Kecewa sekali rasanya, makanya beasiswa parsial ini pun saya tolak.
Tapi, dari Nara Womens U memberi deadline sampai 1 Febuari, agar saya memberi jawaban tolak secara resmi dari kampus. Selama jangka seminggu itu, saya banyak berpikir lagi. Disini, saya mengingat lagi tulisan di tembok kamar. Ada tulisan, saya harus dapat beasiswa di daerah Kansai ( Nara, Kyoto, Osaka).
Tanpa disadari, tembusnya beasiswa ini adalah SETENGAH jawaban dari doa-doa di tembok kamar. Tapi saya mantap, harus tolak dan segera move on ke beasiswa lainnya. Semester 8, semester ini adalah kesempatan terakhir saya mendaftar beasiswa Exchange kampus.
Lalu, orang tua saya langsung menelpon, murka. Murka karena saya menolak beasiswa Nara. Saya memaparkan, ada universitas lain yang juga sedang buka peluang lebih baik, dan saya mau coba jadi mohon doanya. Tapi tidak ada doa yang mereka berikan untuk kesempatan ini. Mereka marah kalau saya tolak. Katanya, papa punya dana cukup andai uang jajan 8jt/bulan selama setahun.
Jujur, saya orang Sulawesi, dimana biaya hidup bisa semahal hidup di Jakarta/Surabaya. Kemudia saya merantau selama 6 tahun terakhir ini dan menetap di Jogja, dimana sebulan saja hanya habis 1 jt~1,5 jt saja. Kagok keras, kalau membayangkan saya harus mengeluarkan 8 jt, sebanding dengan harga kosku per tahun. Shock berat, bila membayangkan saya harus membeli makanan seharga 500 yen (Rp50.000,-) yang cukup menghidupi saya selama 2 hari makan enak di jogja.
Pupus sudah. Saya tidak akan mencoba beasiswa exchange S1 lagi. Putus asa.
Karena kerasnya orang tua dan kemantapan mereka untuk menafkahi uang jajan selama setahun, maka untuk meredamkan bara api di perdebatan, saya putuskan untuk ambil saja beasiswa ini. Rasanya senang tapi juga mau gila! Gila! Padahal, didepan mata, meski belum tahu hasilnya, jelas-jelas didepan mata ada kesempatan beasiswa yang jauh lebih baik, tapi harus mengambil beasiswa kuliah tanpa uang jajan, rasanya mau gila. Rasanya mau mencak-mencak marah kayak cicak!
Teman—teman saya juga kaget. Tidak ada teman sejurusan yang berani ambil beasiswa parsial tanpa uang jajan karena biaya. Saya juga mencoba karena ada tawaran beasiswa dan peluang Jasso.Sama seperti teman saya, ada yang lolos ke Chiba U dengan uang kuliah gratis tapi gagal dapat Jasso. Alhasil, dia tolak dan mau move on ke beasiswa lainnya.
Saya juga mau move on, tapi restu Ortu ternyata sama kuatnya dengan restu Tuhan.





0 komentar:
Posting Komentar